21 Mei, 2015

Setiakah Aku ya Bapa

Shalom Saudara/i terkasih dalam Kristus Yesus :)
Pernahkah kalian mendengar atau bahkan menyanyikan lagu "Selidiki Aku" ?
Kalau pernah, sudahkah kalian tahu makna dari lagu tersebut?
Sungguh benar lagu ini luarbiasa menyadarkan kita tentang suatu hal selaku kita sebagai remaja kristen yang masih terasa sangat labil dalam meyakini atau bahkan mepercayai sesuatu.

Selidiki aku, lihat hatiku
Apakah ku sungguh mengasihiMu Yesus
Kau yang Maha tahu
Dan menilai hidupku
Tak ada yang tersembunyi bagiMU

Reff :
T’lah kulihat kebaikanMu
Yang tak pernah habis dihidupku
Kuberjuang sampai akhirnya
Kau dapati aku tetap setia

Itulah lirik lagu tersebut, resapi setiap katanya seperti kata " Selidiki aku, lihat hatiku, Apakah ku sungguh mengasihiMu Yesus" sudahkah kita mengasih Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh, apakah kita masih setengah hati kepadaNya. Benar, bahwa Tuhan tahu bagaimana cara kita mempercayai kita, takkan ada yang tersembunyi dariNya karena Ialah yang menciptakan kita.
Harusnya kita mengasihi Dia dan percaya kepadaNya dengan sungguh-sungguh, coba renungkan apa perbuatan Tuhan dalam hidup kita yang bisa dilakukan oranglain? Apa ada orang yang mau menebus dosa kita dengan darah dan nyawanya? TIDAK! Tidak akan ada yang bisa melakukan demikian. Hanya Dialah yang sanggup dan mampu melakukan itu. Jadi, marilah kita percaya kepada kepadaNya dengan sepenuh hati dan kasihi Dia sebagaimana Ia telah lebih dulu mengasihi kita.
Perjuangkan selalu hidup kita didalam Dia, kalau kita menyerah hanya karena beban yang begitu berat....berdoalah, ingatlah lagi janjiNya dimana Ia berkata : "SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA" katakanlah pada masa sukarmu : "Ku tak akan menyerah pada apapun juga
Sebelum ku coba, semua yang ku bisa
Tetapi kuberserah kepada kehendakMu
Hatiku percaya Tuhan punya rencana. "
Tetaplah setia dihadapanNya sampai pada akhirnya Dia datang untuk kedua kalinya ke dalam dunia ini. Amin. Tuhan Yesus Memberkati

Pembahasan Pengakuan Iman Rasuli



Bagian 1 : Aku percaya kepada Allah Bapa yang Mahakuasa, khalik langit dan bumi.


Pendahuluan

Untuk melawan aliran-aliran sesat yang sudah berkembang dalam jemaat mula-mula (seperti Gnostik dan Doketisme) bapa-bapa gereja menyusun rumusan Pengakuan Iman Rasuli yang memuat unsur-unsur: 1. Aku percaya kepada Allah Bapa, 2. Aku percaya kepada Kristus Yesus, 3. Aku percaya kepada Roh Kudus. Tidak jelas sejak kapan Pengakuan Iman Rasuli dirumuskan, namun dalam surat Uskup Mercellus dari Ankyra yang hidup tahun AD 340 ditemukan kutipan rumusan Pengakuan Iman Rasuli tersebut dalam bahasa Yunani. Oleh Rufinus (meninggal AD 410) teksnya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan diberi judul Symbolum Apostolorum (= Pengakuan Iman Para Rasuli) dan dibacakan dalam gereja-gereja Roma Khatolik. Sampai sekarang telah menjadi milik seluruh gereja di dunia.


Aku Percaya Kepada Allah Bapa

Seorang yang berkata Aku percaya tidak sekedar mengakui adanya Tuhan, menjadi seorang yang beragama atau beribadat, menyetujui sejumlah kebenaran tentang ketuhanan, melakukan berbagai syarat agama, menjalankan kehidupan yang baik atau menjadi orang jujur. Bahkan percaya lebih dari sekedar menghormati dan membaca Alkitab sebagai Firman Tuhan. Tapi percaya adalah tindakan iman, yaitu iman yang menuntun kita untuk menjalani hidup seperti apa yang sudah kita terima dari Alkitab sebagai Firman Allah. Jadi, itu bukan karena hasil usaha sendiri dari manusia, melainkan karena pimpinan Roh Kudus yang menuntun hidup orang percaya ke dalam persekutuannya dengan Allah (Efesus 2:8-9; Roma 1:16-17).

Maka seorang yang dengan mantap berkata Aku percaya kepada Allah Bapa yang Mahakuasa, khalik langit dan bumi menyatakan pada dunia bahwa orang tersebut menyatukan percayanya kepada Allah yang dipanggil sebagai Bapa. Dialah yang menyediakan langit dan bumi, Dialah Allah satu-satunya yang Mahakuasa, tidak ada yang lain. Dalam pengakuan tersebut terkandung makna: seluruh hidup manusia dan seanteronya ada dalam genggaman tangan Allah, karena Dia Mahakuasa atas segala-galanya. Seluruh pergumulan dan masalah dapat disampaikan dan diselesaikan oleh Allah karena Dia Bapa kita. Segala sesuatu berasal dari padaNya karena Dialah Khalik langit dan bumi. Maka manusia harus berterimakasih dan mengembalikan syukur padaNya.


Bagian 2 : "Dan kepada Yesus Kristus AnakNya Yang Tunggal, Tuhan Kita".


Pendahuluan

Pengakuan kedua rumusan Pengakuan Iman Rasuli ini adalah Aku percaya kepada Yesus Kristus! Pengakuan percaya ini adalah inti dari iman Kristen, bahwa Yesus yang lahir di Betlehem besar di Nazaret sesuai dengan catatan Kitab Suci adalah Kristus. Dialah Anak Allah Bapa Yang Tunggal, Tuhan kita. Rumusan ini dibuat demikian sebagai respon terhadap kalangan yang mengaku Kristen namun tidak mengakui ketuhanan Yesus. Kelompok seperti Arianisme dan Ebionisme (abad AD 2-3) menolak bahwa Yesus itu Allah. Agar tidak terjadi kesimpangsiuran pemahaman iman diantara jemaat, maka gereja merumuskan Pengakuan Iman tersebut sebagai penegasan.


Yesus Kristus adalah Allah yang sejati. Dialah Juruselamat yang datang dari Allah untuk menyelamatkan dunia dan manusia (Matius 1:21). Dialah Kristus (Ibraninya Mesias) yaitu Dialah yang diurapi oleh Allah menjadi Nabi, Imam dan Raja yang tiada taranya. Dialah Anak Allah Yang Tunggal, sungguh-sungguh Tuhan, artinya : dalam kedatangan Yesus itu sebenarnya Allah sendiri yang mendatangi manusia dengan membawa keselamatan yang daripadaNya. Bukti-bukti keberadaan Yesus adalah Tuhan:

- Yesus menyatakan diriNya : Aku dan Bapa adalah satu (Yohanes 10:30).
Dialah Firman yang telah menjelma jadi manusia (Yohanes 1:1, 14).
Kekekalan sebagai Allah ada pada Yesus (Yohanes 8:58 ).
- Kelahiran, kehidupan, kematian, kebangkitan dan kenaikanNya yang ajaib, dsb.

Jadi, pengakuan kita yang pertama Aku percaya kepada Allah Bapa....... dengan pengakuan Dan kepada Yesus Kristus........merupakan penyataan yang sederajat karena kualitas ilahi keduanya sama.

Namun pengakuan percaya tersebut tidak berarti kita percaya pada dua Tuhan. Kita percaya kepada Allah yang sudah memperkenalkan diriNya didalam Yesus Kristus. Artinya : Kita percaya pada Yesus Kristus, yang sudah menyatakan kepada kita, siapa dan bagaimana Allah yang hidup itu sesungguhnya. Sebab itu Yesus Kristus diberi gelar Immanuel, artinya : Allah menyertai kita (Matius 1:23b).

baca selanjutnya : http://www.sarapanpagi.org/pengajaran-pengakuan-iman-rasuli-vt96.html

Apa itu Doa Bapa Kami dan Perlukah Kita Mengucapkan Doa Ini?


Pertanyaan: Apa itu Doa Bapa Kami dan perlukah kita mengucapkan doa ini?



Jawaban:
Doa Bapa Kami adalah doa yang diajarkan Yesus kepada murid-muridNya dalam Matius 6:9-13 dan Lukas 11:2-4. Matius 6:9-13 berbunyi, “Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.” Banyak orang yang salah mengerti dan mengira Doa Bapa Kami sebagai doa yang harus didoakan kata per kata. Sebagian orang memperlakukan Doa Bapa Kami seperti sebuah mantra, sepertinya kata-kata doa itu sendiri memiliki kuasa tertentu atau dapat mempengaruhi Tuhan.

Alkitab mengajar hal yang sebaliknya. Tuhan lebih tertarik kepada isi hati kita saat kita berdoa dan bukan kepada kata-kata kita. Matius 6:6 mengajar kita, “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Matius 6:7 lebih lanjut lagi mengatakan, “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.” Dalam doa kita mencurahkan hati kita kepada Tuhan (Filipi 4:6-7), bukan hanya sekedar mengulangi kata-kata hapalan kepada Tuhan.

Sebaliknya, Doa Bapa Kami perlu dipandang sebagai contoh mengenai bagaimana berdoa. Doa Bapa Kami mengajar kita berdoa. Doa ini memberi kita “bahan-bahan” yang perlu ada dalam doa kita. Berikut ini adalah detilnya. “Bapa kami yang di surga” mengajar kita kepada siapa kita berdoa, sang Bapa. “Dikuduskanlah namaMu” memberitahu kita untuk menyembah Tuhan dan untuk memuji Tuhan. Frasa “Datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga” mengingatkan kita bahwa kita perlu berdoa untuk rencana Tuhan dalam hidup kita dan dalam dunia, bukan rencana kita sendiri. Kita perlu berdoa agar kehendak Tuhan yang terjadi, bukan keinginan kita. Dalam “berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” kita diminta untuk meminta kepada Tuhan untuk hal-hal yang kita butuhkan. “Ampunilah kami akan segala kesalahan kami, sama seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami” mengingatkan kita untuk mengakui dosa kita kepada Tuhan dan berbalik dari dosa, dan juga mengampuni orang-orang lain sebagaimana Tuhan telah mengampuni kita. Penutup dari Doa Bapa Kami, “dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, melainkan lepaskanlah kami dari yang jahat” adalah seruan minta tolong untuk dapat mengatasi dosa dan mohon perlindungan dari serangan si jahat.

Jadi Doa Bapa Kami bukanlah doa yang kita patut hafalkan untuk Tuhan. Doa ini adalah contoh mengenai bagaimana kita patut berdoa. Apakah salah kalau kita menghapalkan Doa Bapa Kami? Tentu tidak! Apakah salah kalau kita mengulangi Doa Bapa Kami sebagai doa kita? Tidak, jika Anda sungguh-sungguh dan dengan segenap hati. Ingat, dalam doa Tuhan lebih tertarik pada persekutuan kita denganNya dan ungkapan isi hati kita daripada pada kata-kata yang kita ucapkan. Filipi 4:6-7 mengatakan, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”


Baca lebih lanjut:http://www.gotquestions.org/Indonesia/Doa-Bapa-Kami.html#ixzz3amD1HeZD

10 Hukum Taurat



10 HUKUM TAURAT KRISTEN



1. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. (Keluaran 20:3)

2. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di
atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah
bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku,
TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa
kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari
orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada
beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada
perintah-perintah-Ku. (Keluaran 20:4-6)

3. Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan
memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan. (Keluaran 20:7)

4. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan
bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari
Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau
anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau
hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.
Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala
isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati
hari Sabat dan menguduskannya. (Keluaran 20:8-11)

5. Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan
TUHAN, Allahmu, kepadamu. (Keluaran 20:12)

6. Jangan membunuh. (Keluaran 20:13)

7. Jangan berzinah. (Keluaran 20:14)

8. Jangan mencuri. (Keluaran 20:15)

9. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu. (Keluaran 20:16)

10. Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau
hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya,
atau apapun yang dipunyai sesamamu. (Keluaran 20:17)

Jawaban Doa, Apa Saja?



Shalom saudara/i yang terkasih, saat ini kita akan membahas tentang jawaban doa. Kita sering berdoa namun kita bingung kenapa doa kita belum juga dijawab, atau bahkan tidak dijawab atau bagaimana. Untuk itu mari kita ketahui bersama tentang apa saja itu jawaban doa.


Jawaban doa yang kita kenal ada tiga. Jawaban doa bukan hanya positif tetapi juga negatif. Jawaban doa adalah bukti bahwa Allah begitu peduli pada kita. Namun, perlu kita pahami mengapa Allah sepertinya jauh. Sepertinya Dia tidak peduli pada kita. Dalam hal ini mungkin kita perlu mengkoreksi diri. Perhatikan penjelasan berikut :
Tuhan tidak mendengarkan doa. Yes 59:1-2. Allah tidak mendengarkan doa manusia karena dosa. Bangsa Israel hidup dalam bergelimpangan dosa. Itu sebabnya Allah sama sekali tidak mendengarkan doa bangsa Israel. Bukan hanya tidak menjawab doanya tetapi sama sekali tidak didengarkan oleh Tuhan. Begitu pula kita sebagai orang kriten yang hidup dalam gelimang dosa. Kita jangan bermimpi bahwa Tuhan akan mengabulkan  doa kita. Jangankan mengabulkan doa kita, mendengarkanpun tidak. Tuhan tutup telinga terhadap doa-doa kita.
Itu sebabnya kita perlu minta ampun dahulu atas dosa-dosa kita. Kita harus mengampuni setiap orang yang melakukan kesalahan terhadap kita, dan kita pun harus minta ampun jika kita bersalah baik kepada sesama maupun kepada Tuhan.

Ada 3 Jawaban doa yang kita kenal yaitu :
1. Tidak. Yak 4:3. Tuhan tidak menjawab doa kita karena apa yang kita minta hanya untuk memuaskan hawa nafsu kita. Hanya untuk memenuhi keinginan daging kita. Kita sedang memprioritaskan kepentingan kita bukan kehendak Tuhan. Tidak juga karena mungkin tidak penting untuk kita. Tidak karena mungkin ada yang lebih baik yang Tuhan akan berikan untuk kita

2. Tunggu. Dan 10:12-13. Terkadang jawaban doa kita terjawab dengan kata “tunggu”. Dengan jawaban ini kita harus sabar menunggu. Ketika kita sakit dan berdoa lalu Tuhan belum menjawabnya tentu saja kita sabar menunggu. Jangan kita memaksa Tuhan. Kenapa kita minta sembuh? Bukankah supaya kita senang? Bukankah supaya kita tenang? Bukan Tuhan yang disenangkan di sana. Tetapi Tuhanpun masih peduli dengan kita. Dia tetap menjawab doa kita bukan karena doa kita hebat. Tetapi karena kita perlu dikasihani sehingga doa kita dijawab oleh Tuhan. Tuhan menjawab doa kita tepat pada waktunya. Mungkin juga meminta pekerjaan, dsb. Kita perlu menantikan jawaban Tuhan dengan sabar. Bukan berarti kita tidak punya tindakan. Kita harus bertindak, mungkin mencari pekerjaan dsb.

3. Ya. Yak 5:16. Doa orang yang benar besar kuasanya artinya doa kita akan diberikan oleh Tuhan jika doa dengan ikap hati yang benar dan meminta yang benar. Ketika kita meminta dengan benar, dan juga dengan sikap hati yang benar maka Tuhan akan menjawab doa kita. Tuhan terkadang langsung menjawab doa kita. Yang peling penting dari doa adalah kita tetap berserah diri kepada Tuhan. Kita tetap mau mengikuti apa yang menjadi kehendak Tuhan. Tuhan memberkati.

sumber tertera : http://jawabandoa.webs.com/

18 Mei, 2015

Arti Sebuah Lirik Lagu Rohani

 pada prinsipnya adalah lagu atau nyanyian yg dipersembahkan untuk memuliakan nama Tuhan, namun bagaimana kita dapat mengetahui ciri-ciri lirik lagu pujian (lagu rohani) yang memuliakan Tuhan? Berikut adalah beberapa petunjuknya:


1. Motivasi dan tujuan untuk memuliakan Tuhan. Lagu pujian dan lagu rohani sebenarnya memuji Tuhan maka tentunya harus didasari motivasi dan tujuan dimana akhirnya hanya untuk memuliakan Tuhan. Apakah tandanya cukup hanya mencantumkan kata “Tuhan” atau “Yesus” di setiap lirik lagu rohani? TENTU TIDAK, sebab iblispun juga bisa menggunakan kata “Allah” ketika mencobai Tuhan Yesus (Mat. 4:6). Dengan kata lain, tanda sebuah lagu rohani bermotivasi dan bertujuan untuk memuliakan Tuhan dilihat dari: ISI lagu. Lagu rohani yang baik haruslah berisi memuliakan Tuhan dan meninggikan Allah dengan motivasi murni yaitu mengingat anugerah dan kasih-Nya bagi umat-Nya, bukan dengan maksud agar Tuhan memberkati kita, dan lainnya.

2. Mengingatkan Umat Kristen terhadap firman-Nya. Oleh sebab bertujuan memuliakan-Nya, maka sebuah lagu rohani harus mengingatkan kita kepada firman-Nya. Peranan lagu pujian rohani berkaitan erat dengan firman Tuhan (tentunya dengan penafsiran yang teliti dan dapat dipertanggungjawabkan). Lirik lagu rohani harus mengingatkan kita kpd anugerah Allah dan semua hal yang diajarkan dalam firman Tuhan, sehingga makin kita menyanyikan lirik lagu rohani semakin bersentuhan langsung dengan firman Tuhan di Alkitab.

3. Latar belakang para penggubah lirik lagu rohani yang baik dan matang rohani. Sudah sewajarnya sebuah lirik lagu rohani digubah oleh para penggubah yang memiliki kehidupan rohani yang baik. Lagu-lagu rohani di abad lampau, seperti Just As I am (lagu ini dipakai sebagai lagu penghantar memasuki altar call dalam kebaktian penginjilan Dr. Billy Graham), penggubah lagu tersebut, Miss Charlotte Elliott memiliki kisah tersendiri ketika menggubah lagu tersebut. Waktu itu Ms. Charlotte menderita kelumpuhan setelah memasuki usia 30 tahun dan waktu itu dia frustasi. Ketika mengunjungi seorang temannya di London, dia berjumpa dengan hamba Tuhan, Dr. César Malan. Waktu itu, Dr. Malan bertanya kepada Ms. Charlotte apakah dia Kristen, dia tidak menjawab. Kemudian Dr. Malan memberitakan Injil kepada Ms. Charlotte. Tiga minggu kemudian, ketika mereka berjumpa di rumah teman mereka, Ms. Charlotte bertanya kepada Dr. Malan bagaimana caranya dia datang kepada Kristus. Dr. Malan menjawab, “Just come to him as you are,” (Datanglah kepada-Nya sebagaimana adanya kamu).

4. Lirik lagu rohani Kristen yang mengubah hidup. Seharusnya lirik lagu-lagu rohani bukan hanya lagu rohani yang indah saat dinyanyikan, tapi juga harus membawa perubahan hidup utk orang yang menyanyikannya melalui kuasa Roh Kudus. Dengan kata lain, lagu rohani tersebut mengandung lirik yang menyadarkan orang yang menyanyi akan dosa dan ketidakmampuannya sebagai manusia berdosa, lalu membawa mereka untuk datang kepada Kristus.

Jika kita telah mengerti 4 ciri lirik lagu rohani yang memuliakan Tuhan, maka dapat disimpulkan bahwa lagu rohani yang bisa dipakai untuk memuliakan-Nya baik di gereja, persekutuan, maupun untuk dinyanyikan pribadi adalah semua lagu rohani melintasi ruang dan waktu: klasik (seperti: oratorio Messiah dari G. F. Handel, dll), lagu-lagu rohani di abad XVIII-XIX (It is Well with My Soul) maupun kontemporer (S’mua Baik dan lainnnya


Sikap Dalam Doa




Doa..... apalagi namanya kalau bukan sebagai “nafas hidup orang beriman” seperti yang sering orang istilahkan? Ya, itulah makna doa. Sebagian orang ada yang mengatakan bahwa doa adalah “meminta” kepada Tuhan. Oh, itu juga ada benarnya. Sebab, apa pun alasan Anda mendefinisikan tentang doa, ujung-ujungnya pasti juga soal meminta. Ada juga orang mengatakan bahwa berdoa itu adalah sarana “berkomonikasi dengan Allah”. Oh, siapa yang mengatakan itu salah? Kalau doa bukan berkomunikasi dengan Allah, lalu apa istilah lain yang lebih tepat untuk kita dapat menggambarkannya secara sempurna? Saudara, sepanjang kita menganggap bahwa doa itu penting dan berharga, sepanjang itu pula kita kita memberikan makna yang berharga sebagai bentuk logis penghargaan kita tentang doa. Tentang doa, tidak jarang saking orang menghargainya, soal cara pun dipersoalkan. Ya, sampai sampai soal mana cara doa yang benar yang sekiranya berkenan kepada Tuhan!

Ada yang berpendapat bahwa berdoa dengan lipat tangan dan pejamkan mata, itu cara yang paling khusuk dalam berdoa. O, ya? Yang lain lagi berpendapat, bahwa berdoa itu bebas, sebebas kita mengekspresikan jiwa kita, tanpa harus terikat dengan cara segala. Biasanya kedua ektrim tersebut mempunyai alasan masing-masing. Yang menganggap bahwa berdoa dengan lipat tangan dan pejamkan mata, itu cara berdoa yang lebih sreg! Oh...oh...oh...oh... alasannya? Karena dengan lipat tangan dan pejamkan mata itu merupakan ekspresi paling mendalam yang merangkum seluruh jiwa raga secara bulat dan utuh. Oh, ya? Sedangkan yang mengatakan, bahwa berdoa dengan dengan tangan bebas, sikap tengadah ke atas dan tanpa tutup mata itulah cara berdoa yang benar! Oh...oh...oh...oh...alasannya? Karena itulah cara berdoa yang paling alkitabiah, ada ayatnya lagi! Oh, ya?

Soal doa..... terkadang kita hanya sibuk mempermasalahkan soal cara, dan soal dengan kalimat apa dan bagaimana kita harus berdoa. Padahal persoalan kita yang paling prinsif adalah, apakah kita sungguh-sungguh menganggap bahwa doa itu sebagai nafas hidup kita? Apakah kita menganggap bahwa doa itu sesuatu yang penting dalam hidup kita sehingga kita menjadi sungguh-sungguh berdoa? Jika jawabnya “Ya”, tentu kita akan selalu berdoa, baik ketika mengawali segala aktivitas memohon penyertaan, petunjuk dan berkat dari Tuhan dan mengakhiri aktivitas kita dengan ucapan syukur dalam doa-doa kita. Bukan hanya sekekali berdoa, kapan-kapan diperlukan. Kapan-kapan berdoa, tunggu masalah menimpa, baru berdoa. Layaknya ban serep, kapan-kapan dibutuhkan! Jika jawabannya “Ya”, tentu kita akan berusaha untuk belajar berdoa, supaya bisa berdoa. Bukan seumuran tak bisa berdoa. Mengucapkan beberapa kalimat mohon berkat Tuhan ketika hadapi piring makanan pun sampai kiamat terlalu sulit untuk diucapkan!

Memang banyak orang yang dapat berdoa dengan lancar, kata-katanya pun indah di dengar. Itu baik, tidak salah. Kita tidak boleh mengatakan bahwa orang-orang yang mengucapkan kalimat doanya dengan indah itu salah. Tidak, tidak sama sekali! Apalagi kalau itu memang cara dia berdoa, karena sudah terbiasa berdoa. Tetapi masalahnya, bila doa itu hanya sebatas mulut, apa pun sikap tubuh yang Anda peragakan, belumlah berarti apa-apa untuk sebuah doa dalam arti yang sesungguhnya! Itu hanyalah ibarat buah-buah plastik. Bagus dan menarik kulitnya, indah bentuknya menyerupai buah yang aslinya, tapi kosong tak berisi. Namun salah jugalah kita, bila hanya karena alasan bahwa karena itu “maha tahu” lalu kita sembarangan saja mengucapkan kalimat doa, kesana kemari tidak jelas tujuan, berputar-putar cukup lama akhirnya kembali ke kalimat semula. Ibaratkan kapal pesiar yang hanya mondar mandir di tengah lautan akhirnya kembali lagi ke dermaga semula! Apalagi bila ini dilakukan untuk doa syafaat, maaf......jangan-jangan hanya memperlambat berkat, padahal Tuhan sudah mau mencurahkan berkat secara cepat! Lalu bagaimana sikap yang benar di dalam doa? Nah ini. Sederhana sekali, seperti yang Yesus ajarkan dalam nas ini. Apa intinya?

Bagaimana Cara Berdoa yang Benar ?
Pertama, berdoa yang benar itu harus dimulai dari kedalaman niat hati yang murni. Bukan dimulai dari cara apa Anda berdoa. Bukan dimulai dari bagaimana tangan, kepala atau mata Anda! Bukan pula dimulai dari mulut atau kalimat yang hanya basa basi ada di mulut, sementara hati masih terpenjara dalam benci, dendam, dan diselimuti awan keduniawian yang hitam! Ya, mulailah dari hati yang murni, dan ekspresikan dengan sepenuh jiwa raga secara nyaman, pantas, yang sekiranya layak Allah berkenan. Jika ini Anda lakukan, kecil kemungkinan Anda akan berdoa seperti orang munafik, seperti yang Yesus sebutkan (ay. 5). 

Kedua, ungkapkan saja isi hati Anda secara wajar walau dengan kalimat yang sederhana, dengan kerendahan hati, tapi jelas dan bermana. Bukan sekedar kata-kata indah yang hanya basa-basi semata. Apalagi kata-kata yang sifatnya membentak-bentak, memaksa-maksa Tuhan. Terlebih dengan Tuhan, ucapkanlah kalimat dengan sopan, karena Anda sedang berbicara dengan Raja di atas segala Raja! (ay.7).

Ketiga, milikilah sikap berdoa layaknya seperti seorang anak kepada bapaknya. Ya, layaknya seorang anak yang meyakini bahwa bapaknya pasti lebih mendengarkannya, ketimbang dengan bapak orang lain. Ya, seperti seorang anak yang meyakini bahwa ayahnya pasti menyayangi dan mengasihinya. Ya, seperti seorang anaka yang meyakini bahwa yang akan diberikan bapaknya kepadanya adalah pemberian yang baik, jika ia minta roti atau ikan yang nikmat dan menyenangkan, bukan diberikan batu atau ular atau yang mematikan! ((ay.8; bdk.Mat. 7:8-11). Ya, seperti seorang Anak yang bergantung dan percaya sepenuhnya atas kebaikan, kemurahan dan kasih sayang bapaknya!

Saudara, terlalu sulitkah berdoa? Bisa jadi, bila itu dilakukan dengan cara-cara berdoa orang munafik. Karena orang munafik bila berdoa harus memerankan tiga cara sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Bagaimana memikirkan strategi supaya dianggap benar-benar berdoa, padahal hatinya tidak. Bagaimana memikirkan kaki, tangan, kepala dan mata terlebih dahulu, ya berdoa sambil berpikir! Belum lagi memikirkan kata-kata untuk di taruh di mulut, sementara hatinya disembunyikan. Ya, berdoa cara munafik memang sulit!
 

Saudara, apakah berdoa itu sulit? Oh...Ternyata tidak sulit bagi orang-orang yang sungguh rindu untuk berdoa. Yang menjadikan doa itu sebagai nafas hidupnya! Ya, seperti semudah dan seindah ketika anda secara otomatis bernafas. Seperti bahagianya seorang anak ketika berkomunikasi dengan bapaknya walau terkadang ia ungkapkan kata-katanya dengan terbata-bata, polos dan bersahaja. Tapi semua dimengerti oleh bapaknya walau sebelum semua kalimatnya berakhir yang tak mampu ia ucapkan secara tuntas! Saudara, sulitkah berdoa? Oh, tidak! Semudah bila saja Anda mau segera bertindak untuk mencoba. Ibaratkan lampu listrik, tinggal Anda tekan stop kontak maka lampu akan segera menyala! AMIN!


sumber : http://renungan-harian-wungkim.blogspot.com/2012/03/sikap-di-dalam-doa.html